يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.... “Dan Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang yang berilmu beberapa derajat”(Al- Mujadalah: 11)

Di ayat Tersebut, Allah SWT menyebutkan bahwa ia berjanji akan mengangkat derajat hidup  orang yang beriman dan juga derajat hidup orang yang berilmu. dari ayat tersebut pula, Allah menunjukkan bahwa orang yang beriman pasti berilmu, dan orang yang berilmu pasti beriman, serta menunjukkan bahwa menjadi orang yang berilmu sama pentingnya tuk menjadi orang yang beriman

Tapi, ada yang menarik tuk dikaji dari ayat tersebut, kata yang di warnai, يَرْفَعِ dalam kaidah bahasa arab disebut Fi’il mudhori’.yaitu kata kerja yang sedang dilakukan. Syarat wajib dari Fi’il mudhori’ yaitu ia harus ber akhiran dengan harokat dhommah (dibaca “u”, dan terletak di atas huruf dan dibaca yarfa’u) dan juga boleh berharokat fathah (di baca “a” dan terletak di atas huruf jadi dibaca yarfa’a).

Akan tetapi, di akhiran kata tersebut tidak berharokat dhommah maupun fathah, akan tetapi harokat akhir dari kata yang diwarnai tersebut ber akhiran kashroh (di baca “i” dan terletak di bawah huruf dan dibaca yarfa’i), pertanyaan yang seharusnya muncul di kepala kita yaitu, kenapa di Al qur’an menyalahi tata cara atau kaidah bahasa arab?

Setelah bertanya-tanya kepada guru dan uztad di sekolah, rupanya tersimpan makna dan rahasia tersirat dari kata yang menyeleweng dari tata bahasa arab tersebut. Karena harokat kasroh terletak dibawah huruf, maka ia dimaknai “rendah”. Dan makna dari kata يَرْفَعِ (mengangkat) dan hubungannya dengan harokat kashroh diakhirannya yaitu bahwa ketika allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu, mereka itu semakin rendah hatinya dan semakin tawadhu.

wallahu a'lam......

Labels: ,