1.Sistem salah. Senjata ampuh yang digunakan dalam proses disintegrasi, belajar dari kasus Timor leste, adalah demokrasi. Sebelumnya, nilai penting demokrasi, yaitu hak menentukan nasib sendiri, terbukti sukses memisahkan Timtim dari Indonesia. Seharusnya ini menjadi alasan kuat untuk menolak sistem demokrasi. Bayangkan, jika tiap wilayah di Indonesia, atas nama hak menentukan nasib sendiri, menuntut merdeka, dipastikan Indonesia akan terpecah menjadi beberapa negara kecil yang lemah tak berdaya.

upaya pelepasan papua semakin gencar

2. kemiskinan
. Mulusnya upaya pemisahan Papua tidak bisa dilepaskan dari kegagalan Pemerintah rezim liberal untuk mensejahterakan rakyat Papua. Meskipun Papua memiliki kekayaan alam yang luar biasa, rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Pangkalnya adalah peerapan demokrasi-kapitalisme. Sistem demokrasi telah memuluskan berbagai UU liberal 

yang mengesahkan perusahaan asing seperti Freeport untuk merampok kekayaan alam Papua.

 ketimpangan sosial di papua juga sangat menganga lebar, inilah yang dikomentari oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat.

Menurutnya, pemerintah pusat mesti bekerja keras mencari solusi agar ketimpangan yang terjadi di Papua dapat segera diatasi dan konflik horizontal dapat mereda.

"Ada ketimpangan luar biasa, padahal kekayaan alamnya luar biasa tapi warganya kurang sejahtera dan tidak maju," ujar Komaruddin dalam acara diskusi 'Kemajemukan dalam Arena Berbangsa' di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/10/11).

penutup
Penting untuk disadari oleh semua pihak, khususnya rakyat Papua, pemisahan Papua dari Indonesia bukanlah solusi bagi persoalan rakyat Papua. Meminta bantuan negara-negara imperialis untuk memisahkan diri merupakan bunuh diri politik. Memisahkan diri akan memperlemah Papua. Negara-negara imperialis yang rakus justru akan lebih leluasa memangsa kekayaan alam dan sumberdaya negeri Papua. Pemisahan Papua hanyalah untuk kepentingan segelintir elit politik yang bekerjasama dengan negara-negara asing imperialis.

Labels: