sungai musi
Sungai musi dengan ratusan anak sungai
Untuk yang ke-18 kali, ASIAN GAMES akan kembali diselenggarakan. Beruntung, kali ini Indonesia kembali menjadi tuan rumah. Tentu saja ini merupakan sebuah kehormatan bagi indonesia, terlebih lagi karena bukan hanya diselenggarakan di satu kota saja yaitu Jakarta, akan tetapi juga diselenggarakan di Palembang.


Ini bukan hal yang tidak biasa. Indonesia sebelumnya sudah pernah menjadi tuan rumah ajang olahraga terbesar se-Asia ini, diselenggarakan di Jakarta. Yang tidak biasa dan cukup membuat saya bertanya-tanya, Kenapa juga harus diselenggarakan di Palembang?.

Mungkin karena hal inilah yang membuat kota Palembang sedang gencarnya melakukan pembangunan, terutama dalam hal penunjang Transportasi. Pembangunan proyek Kereta api ringan (LRT), jalan Flyover dan jembatan musi yang terus bertambah jumlahnya. Seorang tokoh publik bahkan mengatakan pembangunan yang ada di Palembang dan Jakarta sama, bahkan saya sulit membedakannya.

Saya orang palembang, lahir di kota palembang, suatu saat ketika berdiri di pinggir jalan lewatlah sebuah Bus bertuliskan “Palembang Kota Internasional”, dalam hati saya berkata “Whaatt??”.

Pahamilah kawan, ini bukan suatu bentuk “Iri”, Tapi bentuk keprihatinan. Semenjak saya merantau bersama orang tua dari palembang ke Riau saat umur 10 tahun dan kembali ke Palembang saat umur 18 tahun, percayalah kota ini masih sama  saat 8 tahun yang lalu (jika tidak ditambahkan proyek pembangunan yang berlangsung). Jangan ditanya kemiskinan, kriminalitas, dan tentu saja macet yang begitu parah, tidak ada yang berubah, bagi saya kota palembang saat ini sama aja seperti kota yang lainnya, kota yang padat, gedung-gedung yang megah dan jalan jalan yang macet saat jam-jam kerja. Terlebih lagi, selama di Palembang saya jarang atau bahkan tidak pernah melihat wajah-wajah asing, kecuali Cina (bisa jadi pernduduk Lokal).

Tapi sekarang saya paham, saya sangat setuju jika Palembang dikatakan sebagai kota Internasional. Mau dipercaya atau tidak, Sejarah mencatat bahwa palembang adalah kota Internasional yang mengundang pendatang dari berbagai penjuru dunia. Begitu Internasionalnya kota ini, konon burung beo bisa berbahasa asing! bayangkan.

Hal tersebut adalah fakta. Seorang penulis arab, Ibnu Al-Fakih membuat catatan tahun 902 bahwa burung beo tersebut bisa berceloteh menggunakan bahasa Arab, China, Persia bahkan Yunani. Catatan ini didesertasi oleh sejarawan Asia Tenggara berkebangsaan Inggris, OW Wolters, “Kemaharajaan maritim Sriwijaya dan perniagaan dunia abad III-VII”, Desertasi tersebut mengatakan orang-orang asing berdatangan ke Ibu kota Sriwijaya sepanjang tahun. Kemasyhuran Sriwijaya bahkan diakui kekaisaran Tiongkok yang menyebut penguasa Sriwijaya sebagai raja yang dipertuan Sriwijaya, raja tertingi dari semua raja di muka bumi.

Palembang adalah kota Internasional. Kenapa? Karena (dulu) Palembang dijuluki Venesia dari Timur. Palembang memiliki sungai Musi yang eksotis dengan kehidupan tepian sungai. Palembang pada masa kesultanan Darussalam merupakan kota diatas rawa dengan ratusan anak sungai yang bermuara di sungai Musi, kehidupan masyarakat berjalan dengan pola sosial dan budaya sungai yang khas. Anda bisa pergi ke pusat kota palembang hanya dengan menyusuri anak sungai menggunakan ketek (perahu khas palembang). Karena itulah kota ini disebut kota wisata sungai, atau Venesia dari Timur.

Palembang adalah kota Internasional, kenapa? Karena keberagaman di kota ini melebihi kota manapun. jika London adalah kota yang sangat terbuka bagi siapa saja, maka Palembang adalah kota yang lebih terbuka, kehidupan yang beragam di kota ini yang dibalut indahnya toleransi membuat mereka yang dari luar berdatangan bahkan menetap menjadi penduduk lokal.

Tapi, itu dulu.

Kota diatas rawa yang mempunya ratusan anak sungai tersebut sudah hilang oleh proses daratanisasi atau alih fungsi rawa atau sungai menjadi daratan. Akibatnya palembang sudah tidak bisa dikatakan lagi sebagai kota sungai atau “Venesia dari timur” kecuali saat hujan deras yang membuat banjir dimana-mana. Toleransi yang dulu amat kental juga mulai pudar (terutama tahun 2002-2004), warga yang di anggap “non-lokal” seringkali di diskriminasi. padahal, jika lah kehidupan bertoleransi dulu tidak ada, maka makanan khas palembang Empek-empek pasti juga tidak ada, karena inisiatif pertama pembuat empek-empek adalah orang cina lokal.

Tulisan ini bukan untuk menjelekkan, tapi sebagai intropeksi bagi diri sendiri (yang asli orang palembang) dan masyarakat Palembang-SumSel pada Umumnya. Mari kita bangun kota ini agar se-Internasinal pada dulu kala, mulai lah dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menghidupkan kontrol sosial pada masyarakat dan tidak hidup pragmatis.

Semoga ajang ASIAN GAMES mendorong kita untuk selalu maju.

Sukses untuk ASIAN GAMES Jakarta-Palembang 18.8.18

Labels: