Indonesia adalah negeri yang kaya. Kekayaan utama yang dimiliki Indonesia terletak pada potensi sumber daya alam (SDA) yang dimilikinya. Indonesia memiliki tanah yang begitu subur, air yang melimpah, dan iklim yang seimbang sehingga menjadikan tanah Indonesia sebagai pemilik kekayaan alam yang sangat berlimpah. Potensi kekayaan ini diakui oleh dunia dan bisa menjadi sumber pendapatan negara bagi negeri kita yang sedang berkembang ini.

Anugerah besar dari tuhan ini bisa menjadi tulang punggung bagi perekonomian Indonesia. Tentu saja jika pihak pengelola dan terutama pemerintah serius dan bertanggungjawab dalam hal pengelolaan SDA ini.



Adalah Presiden RI ke-6, Jokowi mengatakan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak mejamin kesejahteraan dan kesuksesasan suatu bangsa. Bahkan menurutnya, sumber daya alam justru membuat kita manja dan malas untuk menumbuhkan daya juang, membuat kita lengah dan tidak mendorong kita untuk berinovasi dan berkreativitas.

Memang benar, sumber daya alam yang melimpah ruah tidak menjamin kesejahteraan suatu bangsa. selain SDA kita juga membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan mumpuni dalam pengelolaan Sumber Daya Alam.

Apakah cukup hanya dengan SDA dan SDM? Ternyata tidak. Kedua komponen tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya sistem atau pemerintahan yang serius. Dalam hal ini, pemerintah punya andil besar dalam pengelolaan sumber daya alam. Disamping itu pemerintah juga bertanggungjawab dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Sudahkah pemerintah serius dalam hal ini? Ternyata sangat disayangkan. Disaat panen raya, kondisi petanian yang bagus dan produksi padi yang melimpah ruah, pemerintah memilih untuk melakukan kebijakan Impor beras. Sehingga beras Impor membanjiri pasar, dan harga beras menjadi anjlok (liputan6 25/1).

Dalam bidang pertanian, kita masih banyak mengimpor produk pertanian selain beras seperti bawang, jagung, kedelai dan lain sebagainya. Sehingga harga produk pertanian dalam negeri lebih mahal dibangdingkan produk pertanian luar negeri. Hal ini menyebabkan pengusaha lebih memilih produk impor untuk dijual di Indonesia dibandingkan produk pertanian dalam negeri. Itulah yang menyebabkan banyak petani yang hidup miskin sehingga lebih memilih menjadi karyawan sebuah perusahaan.

Kekayaan alam di Indonesia terjajah oleh pihak asing. Hal ini terlihat nyata tatkala Indonesia masih tunduk pada mekanisme pasar bebas yang disuarakan oleh asing, salah satunya dalam hal migas dan perminyakan. Semua UU yang mengatur energi di Indonesia bermasalah karena dibeking oleh kepentingan asing. Selain itu juga terlihat upaya dari asing untuk meminimalisir peran pemerintah Indonesia dalam sektor migas dan meningkatkan peran swasta.

Hampir semua sektor migas dan minerba di bumi nusantara baik di wilayah barat hingga kawasan timur, di pulau-pulau besar, pulau-pulau kecil hingga laut lepas sudah dikuasai oleh pihak asing. Disadari atau tidak keberadaan perusahaan-perusahaan asing tersebut suda mencapai level “mengancam kedaulatan Indonesia” (harian terbit 7/8).

Perlu diketahui juga bahwa SDM Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan. Kondisi pendidikan di Indonesia mendapat skor 67,2 dan menempati peringkat ke-53 dunia. Indonesia dinilai mampu membuat partisipasi pendidikan dasar mencapai nilai 92,9 (media indonesia 15/9).

Maka, pernyataan Presiden diatas lebih tepat jika tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, tapi juga kepada Pemerintahan. Yang “manja” dan “malas” dalam menumbuhkan daya juang. 

Labels: , ,