perayaan Valentine berangkat dari semangat orang romawi untuk memperingati dewa kesuburan mereka
perayaan Lupercalia (romewiki.wikifoundry.com)

Setiap 14 Februari, para remaja diarahkan untuk merayakan hari cinta, hari kasih sayang. Urusan yang satu ini memang tiada habisnya setiap tahun. Setiap kali ada yang sadar akan bahaya virus merah jambu ini, setiap kali pula ada generasi baru yang polos menerima apa yang diseru oleh kapitalis hedonis. Tentang apa yang harus mereka lakukan pada tanggal 14 Februari.

Di hari Valentine ini, cinta hanya disetarakan dengan kartu ucapan, coklat dan bunga mawardengan harga yang tentu tak murah. Merugikan yang punya cinta dan jelas menguntungkan pengusaha yang meraup milyaran rupiah dari bisnis syahwat ini.

Dari segi akidah, iman pun tergadai dengan adat dan kebiasaan yang bukan dari Islam. Dari segi kehormatan lebih parah lagi, Valentine Day sudah menjelma menjadi ajang pelepasan kehormatan secara massal.

***Asal Usul Valentine Day

Seperti yang kita ketahui, bangsa Romawi yang menjadi dasar bagi peradaban barat hidup dengan suatu adat, yaitu menjadikan kepuasan fisik badaniah sebagai tujuan mereka. Money, drink and sex.

Jauh sebelum dunia mengenal hari kasih sayang, orang Romawi mengenal perayaan “Festival Lupercalia”, yaitu rangkaian hari raya yang dipersembahkan kepada Lupercus sang dewa kesehatan dan kesuburan dan Juno Februa yang juga dewi pernikahan dan kesuburan. Perayaan ini digelar setiap tahunnya pada tanggal 13-15 Februari.

Lupercus adalah dewa kesuburan seksual Romawi yang diilustrasikan sebagai manusia berkaki dan berkepala kambing, atau setara dengan Pan dalam mitologi Yunani. Dalam tradisi yahudi pemuja setan, Pan menjelma menjadi Baphomet, yang menjadi perlambangan regeneratif lelaki dan wanita sekaligus lambang seks.

dewa lupercus yang digambarkan berkepala kambing.

Juno Februa adalah dewi pernikahan dan kesuburan, istri dari Jupiter, pemimpin para dewa. Dalam mitologi Yunani Juno dikenal sebagai Herayang menikah dengan Zeus pada bulan Gamelion yang terletak antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.

Apa yang dirayakan saat “Festival Lupercalia” 13-15 Februari adalah dalam rangka meneladani semangat Pan, Juno dan Lupercus yang kesemuanya bermuara pada satu kata; NAFSU.

Dimulai dengan menaruh nama nama perawan wanita disebuah tempat dalam kertas-kertas yang terpisah. Kemudian lelaki maju satu persatu untuk megambilnya secara acak. Siapa yang terpilih itulah akan menjadi partner untu melakukan hubungan terlarang sepanjang malam itu, berlanjut menjadi pasangan hingga tahun berikutnya.

Begitulah praktek “Festival Lupercalia” dipraktekan selama berabad-aad di masa Romawi. Adapun selama masa kaum kristiani berkuasa, tahun 494 M Paus Gelasius I mengakulturasi Festival Lupercalia ini menjadi “Festival Penyucian Bunda Maria”sebagai ganti peyembahan terhadap Lupercus. Namun esensi perayaan ini tetap sama. Penuh dengan nafsu dan keburukan.

Pernah pula Gereja mencangkokkan tokoh Saint Valentine yang berjuang demi cinta hingga menjadi martir pada 14 Februari, hingga hari kematiannya diperingati sebagai hari perjuangan cinta, Valentine  Day. Namun kebenarannya tidak dapat diverifikasi , dan esensi perayaannya tetap sama. Hingga pada 1969 Valentine Day dihapuskan dari kalender gereja oleh Paus Paul VI.

***
Sampai di sini saja sdah cukup bagi kaum Muslim alasan untuk meninggalkan Valentne Day. Karena asalnya dari perayaan pagan Romawi, dilanjutkan sebagai hari besar di gereja. “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut”.

Belum lagi praktek Valentine Day, dijadikan sebagai hari menyatakan cinta, mencari pacar,melakukan aktivitas maksiat dengan kehormatan sebagai taruhan. Itu berarti awal kiamat bagi kaum wanita.

(felixsiauw.com)

Labels: