Ghouta Timur, tidak ada lagi yang bisa diperbuat warga disana, selain bersembunyi dan melarikan diri dengan pilihan terakhir tewas terbunuh oleh serangan massif rezim Assad dan Rusia.

Seorang anak menerima perawatan di sebuah rumah sakit sementara setelah pemboman rezim di wilayah Ghouta Timur
sumber : aljazeera.com
Lebih dari 470 orang, termasuk 150 anak-anak, telah terbunuh di pinggiran kota Damaskus sejak hari Minggu, menurut Observatorium Khusus untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris. 

2.330 orang lainnya cedera, kata SOHR pada hari Jumat malam. Puluhan orang lainnya hilang "di bawah reruntuhan", tambahnya, saat pasukan Suriah yang didukung Rusia terus melakukan penyerangan udara di daerah yang sering disebut kantong pemberontak tersebut.

Ghouta adalah sebuah daerah pedesaan di pinggiran ibukota Damaskus, telah berada di bawah pengepungan pemerintah sejak 2013. Sekitar 400.000 orang Syria tinggal di sana. Pengepungan tersebut telah mengakibatkan inflasi yang besar dari biaya bahan makanan pokok, sekantong roti bahkan  harganya setara dengan $ 5.

Pasukan Suriah dan Rusia bisa saja berdalih ini adalah serangan terhadap pemberontak. hal ini juga yang sering diungkap oleh media sekuler dengan julukan "serangan terhadap pemberontakan”, padahal sejatinya ini adalah serangan yang ditujukan kepada masyarakat sipil.

Mahmood Adam, seorang anggota Pertahanan Sipil Suriah, menjelaskan kepada wartawan Al Jazeera kenyataan Ghouta Timur sebagai "bencana".

"Kami berbicara tentang penargetan sistematis terhadap warga sipil di rumah, sekolah, pusat medis, pasar, dan lokasi pertahanan sipil mereka," katanya. "Ini adalah pemusnahan masyarakat di daerah ini".

"Banyak keluarga yang telah bersembunyi di ruang dan tempat penampungan bawah tanah yang belum melihat matahari dalam beberapa hari karena takut akan kebrutalan rezim dan pesawat tempur Rusia," lanjutnya.

"Kami tidak tahu apakah kami akan hidup untuk mengatakan kepada dunia apa yang terjadi dalam satu jam atau sehari berikutnya. Peluncur roket mereka tidak ada habisnya, dan pesawat tempur belum meninggalkan langit Ghouta Timur sejak hari Minggu.

"Semua orang di sini tahu ini adalah pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan," tambahnya. "Ini perang melawan warga sipil."

Ahmed al-Masri, juru bicara Union of Free Syrian Doctors, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan pemerintah berusaha untuk menghancurkan "setiap aspek kehidupan sipil".

"Pasukan rezim menggunakan cara pemboman yang paling ganas," katanya. "Akibatnya, banyak rumah sakit dan fasilitas medis di Ghouta Timur terkena dan hancur secara langsung. 

(Al Jazeera 2018/02)

Labels: ,