Rezim Suriah yang didukung oleh Rusia terus melancarkan serangan ke Ghouta Timur. Dengan dalih memerangi “pemberontak”, rezim Suriah sejak dua minggu penyerangan telah membunuh Lebih dari 470 orang, termasuk 150 anak-anak, telah terbunuh di pinggiran kota Damaskus menurut Observatorium Khusus Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris.

Pada hari Kamis tanggal 12 April, Mentri Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa Ghouta Timur telah dikuasai sepenuhnya oleh Rezim Suriah. “… semua Ghouta Timur berada di bawah kendali tentara Suriah,” kata Yury Evtushenko, kepala pusat perdamaian dan rekonsiliasi Rusia untuk Suriah, dilansir portal berita Anadolu Agency.

Menarik untuk diperhatikan, terutama perang-perang yang terjadi di Timur Tengah yang selama ini di latarbelakangi oleh kepentingan Suriah dan AS. Rezim Suriah sebagai pelayan kepentingan Rusia di Suriah telah menggunakan senjata kimia berupa gas beracun selama penyerangan di Ghouta Timur. Menurut laporan yang dikeluarkan WHO, Sekitar 500 pasien di rumah sakit menunjukkan gejala-gejala terkena bahan kimia beracun setelah terjadinya serangan di Douma, Ghouta Timur.

Data penggunaan senjata kimia tersebut belum di kalkulasikan dengan semua “perang” yang selama ini terjadi di Suriah. Menurut data yang dikeluarkan Syrian Network for Human Rights (Jaringan Suriah Untuk Hak Asasi Manusia), Rezim Suriah, yang dipimpin oleh Presiden Bashar Al-Assad, telah menggunakan senjata kimia sebanyak 211 kali sejak krisis terjadi. Padahal penggunaan senjata kimia telah dilarang penggunaannya oleh Hukum Internasional.


anak-anak yang terkena senjata kimia rezim suriah

Disis lain, tidak ada hukum yang membenarkan sebuah pemerintahan membunuh rakyatknya sendiri secara massal. Pasalnya secara politis, serangan yang dilancarkan oleh Rezim Suriah diawali dengan gerakan Arab Spring atau Revolusi Arab, yang menuntut agar Bashar Al-ashad mundur dari kekuasaan karena ia hanya mewarisi kediktatoran dari ayahnya. Sehingga protesnya rakyat tersebut dibalas dengan desingan peluru oleh pemerintahan. dan serangan “berdarah”tersebut tetap dilakukan dengan bantuan Rusia dan Iran hingga saat ini.

Ditengah mencekamnya konflik ini, tampaknya Amerika Serikat tidak mau tinggal diam. Presiden AS Donald Trump lewat akun Twitternya mengatakan akan menyerang Suriah bahkan lebih cepat (12/4). Ancaman penyerangan oleh AS tersebut menggunakan dalih bahwa Rezim Suriah telah menggunakan senjata Kimia untuk membunuh rakyatnya. Bahkan Arab Saudi bersedia dilibatkan dalam penyerangan di Suriah, sebagaimana yang dikatakan pangeran mahkota muhammad bin salman.

Hingga pada hari ini, Sabtu 14 April, AS bersama sekutu yakni Inggris dan Perancis secara resmi melakukan serangan udara ke Suriah yang menargetkan gudang senjata dan basis militer. Maka yang menjadi pertanyaan apakah betul AS tiba-tiba saja merasa kasihan terhadap rakyat suriah? Apakah ia merasa iba terhadap anak-anak dan perempuan yang selama ini dibantai di suriah? Maka perlu diketahui, AS dan Rusia lah yang selama ini yang berada dibalik konflik Timur Tengah. AS lah yang selama ini berada dibelang tragedi yang menimpa kaum Muslimin Afghanistan dan Iraq. (aljazeera.com 3/4)

Wahai Kaum Muslimin

Sungguh menyedihkan kondisi yang menimpa kaum muslimin saat ini. Benar sudah apa kalimat yang keluar dari lisan suci Rasululullah, bahwa kelak di suatu masa ummat Islam akan berada dalam keadaan yang sedemikian buruknya sehingga diumpamakan sebagai makanan yang diperebutkan oleh sekumpulan pemangsa.

Sungguh kita melihat sekarang darah kaum muslimin menjadi rebutan pemangsa di Suriah dan semua ini disaksikan oleh pemimpin-pemimpin Arab dan kaum muslimin seluruhnya.  Tidakkah dari kita semua mengetahui bahwasannya Rasulullah pernah mengatakan, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i).

Atas dasar inilah semoga kita senantiasa sadar bahwa urusan yang terjadi di Suriah, Palestina dan tempat lainnya adalah urusan kaum muslimin selurhnya, apalagi jika menyangkut Darah dan Kehormatan kaum muslimin.

Rasulullah bersabda, ” Kaum Muslimin seumpama satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR. Muslim). [risalahpos.com]

Labels: