Video yang mengerikan dari seorang sniper Israel yang sedang menembaki pengunjuk rasa Palestina di dalam pagar ‘penjara’ Gaza. Mereka kemudian bersukacita dan tentara lain memuji “sukses” nya membunuh telah tersebar luas dan dikutuk di seluruh dunia. Seminggu sebelumnya, juga beredar video lain yang mendokumentasikan penembakan terhadap pengunjuk rasa Palestina lainnya. Video ini juga mendapat kecaman luas.

Namun, bagi warga Palestina, yang paling menyedihkan dari video aksi ‘Gaza Great Return March’ baru-baru ini adalah bahwa adegan mengerikan ini akan memicu gelombang kemarahan di seluruh dunia, dan itu hanya akan berlangsung sesaat sampai kejahatan berikutnya terjadi.

Dunia telah melupakan Gaza dan blokade selama satu dasawarsa yang dilakukan oleh Israel pada rakyat Gaza. Dibutuhkan pembunuhan 31 warga Palestina untuk mengingatkan komunitas internasional tentang penjara terbuka terbesar di dunia yang ada Gaza.


Jauh dan Terlupakan

Meskipun video ini menjadi arsip yang penting untuk organisasi hak asasi manusia dan komunitas Internasional, yang lebih penting jangan sampai data tersebut serta ratusan data lainnya sekedar menjadi “arsip” saja.

Dunia digital-komersial saat ini akan memastikan video-video seperti itu akan hilang dan terkubur di bawah tumpukan informasi yang kita konsumsi setiap hari. Kita terkejut oleh video semacam itu sampai kami terbiasa dengan gambar tersebut dan bersiap-siap untuk gambar yang lebih mengejutkan.

Selain itu, perjuangan, perlawanan dan pengorbanan orang Pelestina sering disesuaikan sesuai selera, korban berubah menjadi gambar trendi dan solidaritas sekedar menjadi klik melalui keyboard. Jauh dan terlupakan, Gaza kini telah menjadi trend lagi, tapi hanya untuk menerima gelombang empati jangka pendek.

Ini juga mengkhawatirkan bahwa kita sudah tahu dengan jelas gudang istilah-istilah yang digunakan setiap kali Israel melakukan kejahatan terhadap orang-orang Palestina. Media menyamakan antara korban dan penyerang, menyebutnya “bentrokan” dan “konfrontasi”; komunitas internasional menyerukan untuk “menahan diri”, mereka mengungkapkan “keprihatinan” mereka dan jika mereka mampu lebih keras, mereka menyerukan “penyelidikan”. Dan setiap niat baik memudar di hadapan propaganda Israel. Mesin yang yang menakutkan media dan politisi.

Akar Penyebab Kekerasan

Hal ini sangat menjengkelkan ketika dunia mengajari warga Palestina begitu lama tentang bagaimana mereka harus menolak dan, dengan kata lain, “bersikap baik kepada penindas mereka”. Alih-alih menunjuk pada akar penyebab kekerasan, orang-orang Palestina adalah orang-orang yang dipenjara dan diperintahkan untuk membuktikan kepada dunia betapa “tanpa kekerasan-nya” mereka.

Sikap ini tidak hanya menggurui, tetapi juga mengabaikan budaya perlawanan Palestina yang kaya, dulu dan sekarang, dan hak mereka untuk menentukan nasibnya sendiri. Sejak penjajahan Zionis dimulai di Palestina, telah ada resistensi, perlawanan yang akan terus berlanjut selama penjajahan dan pendudukan terus berlanjut di tanah Palestina.

Protes Gaza hanyalah kelanjutan dari sejarah panjang protes rakyat Palestina. Tidak hanya di Gaza, tetapi di kota dan daerah Palestina lainnya, perlawanan rakyat telah terjadi setiap hari dan dalam banyak hal, melalui tindakan langsung, budaya, seni, BDS, kampanye, menciptakan proyek ekonomi mandiri dan sebagainya.

Banyak desa Palestina telah melakukan protes setiap minggu dan menghadapi kebrutalan yang sama. Namun tidak ada perhatian media mainstream, tidak ada dukungan atau perlindungan diberikan kepada mereka yang mengambil bagian dalam protes. Ahed Tamimi, misalnya, harus kehilangan kepolosan masa kecilnya sehingga dunia bisa mencatat perjuangan sebuah desa kecil Palestina, Nabi Saleh, tempat Tamimi berasal, yang harus membayar mahal karena menuntut kebebasan dan keadilan.

Israel, sekali lagi, tahu bahwa mereka akan lolos dari tuntutan hukuman atas kejahatannya, dan karena itu mereka terus melakukan kekejamannya. Kita memiliki tanggung jawab untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dan di Gaza – yang menurut laporan PBB, tidak akan dapat ditinggali pada tahun 2020 – untuk mendapatkan kebebasan, kemerdekaan dan keadilan dan kedua menyalurkan semua kemarahan kita untuk bergabung dengan gerakan yang lebih konkret dan lebih dari sekedar mesin kata-kata dan clicktivisme jangka pendek untuk menghentikan kejahatan Israel.

Ditulis oleh : Abir Kopty, Penulis dan Mahasiswa PhD Palestina

Sumber : commondreams.org

Labels: