Al-Qur’an adalah grundnorm kehidupan bagi setiap muslim. Dari satu kata tersebut seharusnya sudah cukup sebagai alasan juga sebagai motivasi bagi saya untuk berusaha terus menghafal Al-Qur’an. bagi setiap muslim Al-Qur’an itu sendiri adalah kehidupan bagi dirinya, karena itu ketika kehidupan itu hilang, maka konsekuensi dari hilangnya kehidupan, yakni kematian, akan menghampiri setiap hati yang didalamnya telah hilang ayat-ayat Al-Qur’an.

Allah ta’ala telah mensifati orang-orang mukmin sebagai calon penghuni surga tertinggi, yakni surge firdaus dengan salah satu sifat “Khusuk dalam shalat”. Bagi saya sendiri, sholat dengan membaca ayat Qur’an yang telah dihafalkan membuat shalat lebih khusuk karena ayat yang keluar dari lisan terasa lancar diucapkan dan mudah diresapi. Disini seharusnya sedikit lebih banyak menerangkan bahwa dengan menghafal Al-qur’an membuat banyak urusan kita dengan allah menjadi lebih mudah, dan itu sudah terbukti dengan nash dan dalil-dalil dari perkataan rasul shallahu alaih dan dari Al-Quran sendiri.

Tentu kita semua sepakat bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang utama, karenanya kehidupan dunia merupakan jembatan menuju kehidupan akhirat yang kekal. Dari sekian banyak usaha-usaha agar kehidupan yang kekal di akhirat tersebut menjadi lebih baik, rasulullah shallahu alaih menyanjung para penghafal Al-qur’an dengan sanjungan bahwa para penghafal Al-qur’an tersebut akan memasuki surga dengan membawa orang-orang yang akan turut serta, yakni ibu dan bapak, istri, anak-anak, saudara kita dan lain-lainnya.

Sanjungan Rasulullah sekaligus kabar gembira bagi para penghafal Al-Qur’an tersebut mungkin motivasi paling kuat bagi saya supaya terdorong menghafal Al-qur’an karena itu hal yang paling sering sekali saya ingat. Ketika saya merasa tidak berdaya, dengan umur yang sudah terbilang dewasa akan tetapi masih bergantung pada perekonomian orang tua, kuliah masih dibayari, uang saku masih ditanggung orang tua. Dengan memikirkan hal tersebut membuat rasa “dewasa” pada diri saya serasa hilang. Karena nilai yang saya pegang, bahwa seorang anak manusia ketika sudah dewasa harus sudah bias mandiri bahkan jika bisa membalas budi atas kebaikan tak ternilai dari orang tua.

Kebaikan dari orang tua memang tidak akan pernah ternilai, seberapa sukses di dunia, seberapa banyak uang yang dihasilkan bahkan tidak mampu untuk menyamai derajat kebaikan orang tua kepada anak nya, hal tersebut sudah pasti. Akan tetapi Allah yang maha baik, membuka jalan bagi anak-anak yang yang sepenuh hati sadar untuk berbakti kepada orang tua. Jalan tersebut yakni dengan menghadiahkan orang tua kita tempat terbaik di kehidupan akhirat yakni Surga.

Untuk meraih surga Allah taala serta menghadiahinya kepada orang tua, juga untuk orang-orang yang kita sayangi maka salah satu jalan utama yang Rasul sebut yakni dengan menghafal Al-Quran. Saya rasa disitulah letak kesuksesan terbesar dan hakiki sifatnya.

Selain daripada itu, disisi lain diri seorang muslim sebagai hamba, seorang muslim juga mengemban tugas sebagai pemimpin. Pemimpin disini bersifat umum dari pemimpin bagi diri sendiri sampai pemimpin bagi suatu negara. Disinilah letak fungsi absolut dari al qur’an. Al-Qur’an mengatur kehidupan karena itu islam itu sebdiri merupakan suatu aturan mengenai sistem kehidupan. Seorang Hafidz yang menjaga hafalan al-quran adalah orang yang paling paham tentang kehidupan karena Al-Quran sendiri adalah sumber kehidupan. Disisi lain para penghafal Al-Qur’an diangkat derajat nya serta sudah disiapkan hal terbaik bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat

Saya rasa banyak alasan seseorang dalam menghafal Al-Qur’an. akan tetapi bagi saya pribadi, alasan utama dari amalan ini karena Allah mengatakan bahwa perkataannya (al quran) lebih utama atas seluruh makhluk karena itu Allah menyukai orang yang menghafal kalamnya. Motivasi seorang muslim dalam menghafal al-quran adalah untuk meraih ridho’nya serta mengharap ampunannya.

Menghafal Al-Qur’an juga merupakan bagian dari ikhtiar agar diakui oleh Rasulullah shallahu alaih agar beliau mengakui diri kita sebagai umatnya.

Kelak di Akhirat, ketika tidak ada sesuatupun yang dapat memberi pertolongan selain Allah, ditengah hiruk pikuk di padang masyhar, rasulullah akan memberi syafaat bagi orang-orang yang diakui beliau shallahu alaih sebagai umatnya.

Al-Qur’an adalah syafaat. Ia akan akan dating pada hari kiamat kepada orang-orang yang selama kehidupan dunia dekat dengannya. Itu lah perkataan rasul, janji dari rasul bagi para penghafal al quran yang senantiasa berbebenah dalam bacaannya dan senantiasa berusaha untuk mengamalkan ayat ayat yang dihafalkannya.

Karena itu, salah satu ikhtiar yang saya ingin lakukan adalah berkumpul bersama orang-orang yang sama berusaha dan menjaga hafalan Al-Qur’an, salah satunya program beasiswa tahfidz Inisiatif Zakat. Terlebih lagi menghafal al-quran di era sekarang bukanlah perkara mudah. Seperti yang dikatakan Allah taala, bahwa Al Qur’an adalah cahaya. Bukan perkara mudah menjaga hafalan qur’an ditengah maraknya budaya maksiat yang sering tampak didepan mata kepala sendiri.

Demikian diatas adalah motivasi saya dalam usaha-usaha menghafal ayat al-quran. Motivasi inilah yang selama ini menumbuhkan keinginan dan kemauan saya dalam menghafal al-quran. Wallahu a'lam

*Tulisan yang berjudul "Motivasi Pribadi Menghafal Al-Qur’an" ini prasyarat untuk mengikuti program Beasiswa Mahasiswa Tahfidz yang diselenggarakan oleh Inisiatif Zakat Indonesia pada bulan Maret tahun 2019 dan dipost atas izin penulis

Labels: ,