Oleh:
Ahmad Jafar Hasibuan

Malam menjadi semakin panjang karena rembulan menampakkan senyumnya.

Awan melintas perlahan dihadapannya, untuk sekedar menyapa jiwanya.

Bunyi suara hewan liar menemani keheningan malam.

Sinar rembulan menarik perhatian manusia sang pemuja kenikmatan.

Rembulan tersenyum menutupi kesedihannya yang tak ditemani gemerlap cahaya bintang.

Udara begitu sejuk, sayup-sayup petir memberi kabar gembira akan turunnya rahmat tuhan.

Bumi begitu sepi, pepohonan menari dengan daunnya.

Terbersit dalam hati untuk melepaskan sejenak kehidupan fana duniawi, menikmati malam dengan segala keindahan yang ditawarkan nya.

Dahulu ketika masih menempa diri dalam lautan kayu-kayu tua, seringkali mencari-cari waktu menikmati angin malam. Atap bangunan menjadi tempat paling favorit.

Bercengkerama sembari memikirkan eloknya ciptaan tuhan, adalah kegiatan yang menjadi rutinitas.

Di atap gedung terkadang guyonan-guyonan receh yang menjadi pembahasan.

Hayal demi hayal, mimpi demi mimpi dituliskan pada papan dongker besar kepunyaan kami, walaupun tangan tak sampai tulisan itu terlihat begitu jelas dan kekal dalam sanubari.

Rencana demi rencana tak luput disampaikan kepada penikmat setia kami si botak putih, yang terkadang menghilang disaat rindu mendera. 

Waktu begitu singkat, bulan purnama sudah yang kesekian kalinya. Pesonanya tak pernah pudar, selalu saja menawarkan kedamaian, menyentuh hati pemujanya.

Untung saja qais tidak se zaman denganku.

Mudhorat jika dia mengetahui ku memuja keelokan rembulan, bisa saja kisah cinta qais dan laila tidak tersampaikan pada ummat manusia.

Apa jadinya jika jika qais mengetahui kumendamba rembulan, mungkin pesan cintanya tak akan pernah tersampaikan pada laila.

Tak terbayang betapa mengerikannya jika ayahnya (qais) memerintahkan bala tentaranya menghapuskan ku dari dunia karena telah menganiaya hati qais.

Cukup sudah cinta qais tidak tersampaikan dalam ikatan keluarga, biarlah cinta qais melegenda sebagaimana besarnya cinta mereka.